R.A.A Wiranatakusumah, Raja Sunda Terakhir dengan Jiwa Seni yang Kental

author photo Juli 24, 2020
R.A.A Wiranatakusumah, Raja Sunda Terakhir dengan Jiwa Seni yang Kental

RAA Wiranatakusumah V sempat menjadi Menteri Dalam Negeri pertama dari Republik Indonesia. RAA Wiranatakusumah yang memiliki nama kecil Muharam ini merupakan pemimpin yang sangat memperhatikan kesejahteraan rakyat. Tidak heran kalau ia menjadi dekat dengan rakyat dan menjadi pemimpin yang dicintai saat itu. Berikut ulasan selengkapnya mengenai biografi R.A.A Wiranatakusumah yang sering disebut sebagai Raja Sunda terakhir.

Biografi RAA Wiranatakusumah

Raden Aria Adipati Wiranatakoesoema V dilahirkan pada tahun 1888 dan wafat di tahun 1965. Namanya sering dieja Aria Wiranatakusuma saja. Lahir di Kota Bandung dan merupakan anak semata wayang dari Raden Adipati Kusumadilaga. Ayahnya merupakan Bupati Bandung yang memimpin pada periode 1874 – 1893.

RAA Wiranatakusumah mendapat bekal pendidikan yang baik. Ia pernah menempuh pendidikan di ELS, OSVIA, dan HBS. Pada tahun 1920, RAA Wiranatakusumah diangkat menjadi Bupati Bandung. Pelantikannya yang dilakukan pada 12 April 1920 mendapat perhatian besar dari berbagai kalangan. Meski usianya masih sekitar 24 tahun, ia mampu memimpin dengan baik dan dekat dengan rakyat.

Sebelum menjabat Bupati Bandung, RAA Wiranatakusumah memulai karirnya sebagai Juru Tulis Camat Tanjungsari pada tahun 1910. Perjalanan karirnya terbilang mulus, sampai setelah Indonesia meredeka, ia dipercaya untuk menempati posisi sebagai Menteri Dalam Negeri RI. Kemudian diangkat sebagai Ketua Dewan Pertimbangan Agung sampai tahun 1948. Kemudian ketika pembentukan RIS, ia diangkat sebagai Presiden Negara Pasundan.

Ketika menunaikan ibadah haji, ia diberi penghargaan Bintang Istiqlal Klas I oleh Raja Arab saat itu. Selain menguasai kebudayaan Sunda dengan baik, ia juga memiliki pemahaman yang mendalam akan ilmu agama. Sampai saat ini tidak banyak pejabat di tanah Sunda yang memiliki kemampuan tersebut. Karena kemampuan istimewanya tersebut, ia disebut sebagai menak-santri.

Beberapa kebijakannya ketika memimpin Bandung, seperti menciptakan peraturan keluar - masuk uang Desa, mendirikan sekolah-sekolah Islam, dan mendirikan koperasi. Selain itu, ia juga aktif menulis buku. Beberapa buku yang pernah ditulis adalah riwayat Nabi Muhamad Saw yang menghadirkan nuansa Sunda dan Islamitishe Democratie.

RAA Wiranatakusumah dan Seni


Bukan hanya peduli pada kesejahteraan rakyat dan pendidikan, RAA Wiranatakusumah juga memiliki kepedulian terhadap seni. Ketika Kongres Java Instituut digelar pada 18 Juni 1921, ia menghelat sebuah teater di pekarangan Pendopo Bandung. Judul teater yang dipilih saat itu adalah 'Lutung Kasarung yang merupakan cerita dari tanah Sunda'.
 
Dalam bahasa Indonesia, Lutung Kasarung memiliki arti kera yang tersesat. Garis besar ceritanya adalah perjalanan turun ke bumi dari Sanghyang Gurumada. Ia berada dalam wujud kera/lutung yang buruk rupa di perjalanan tersebut. Perjalanan itu membawanya bertemu dengan seorang putri bernama Putri Purbasari yang terusir. Akhirnya lutung yang buruk rupa itu berubah menjadi seorang pangeran, kemudian menikah dengan Putri Purbasari.

Teater yang dipentaskan saat itu terbilang spektakuler dengan jumlah penonton teater mencapai ribuan orang. Semua penonton dibuat terpukau oleh teater tersebut, termasuk orang-orang Belanda di dalamnya. Terlebih digelar di ruang terbuka yang saat itu sedang menjadi tren di Eropa. Dengan kata lain, RAA Wiranatakusumah beserta segenap pihak terkait berhasil menghelat pertunjukan bernuansa Eropa di Bandung.

Tidak cukup sampai di situ, di sela-sela kesibukannya sebagai bupati, RAA Wiranatakusumah menyempatkan waktunya untuk menggarap cerita Lutung Kasarung ini. Penggarapan itu ia mulai setelah pulang dari beribadah haji, pada tahun 1924. Lutung Kasarung kemudian berhasil menembus industri perfilman dan mulai digarap pada tahun 1926. Dengan demikian, film tersebut menjadi film pertama di Hindia Belanda.

Bukan hanya sebagai pencetus ide dari Lutung Kasarung, RAA Wiranatakusumah juga menjadi penyandang dana film tersebut. Untuk menambah pendanaan dari film ini, ia juga bekerja sama dengan  F.A.A. Buse yang saat itu dikenal sebagai raja bioskop Bandung.

Film Lutung Kasarung disutradai oleh G. Krugers dan L. Heuveldorp, dan berada di bawah naungan NV. Java Film Company. Durasi film tersebut mencapai 60 menit dan diperankan oleh orang-orang yang berasal dari kalangan priayi Bandung. Rumah Sunan Ambu yang berada di Bukit Karang menjadi lokasi untuk pengambilan gambar. Dukungan juga datang dari pihak militer yang meminjamkan lampu sorot besar hingga mobil.

Setelah ditunggu-tunggu oleh semua penduduk Bandung, film yang berjudul “Loetoeng Kasaroeng” ini akhirnya diputar pada 31 Desember 1926. Sekitar sepuluh tahun setelah film Loetoeng Kasaroeng tayang, dirilislah film Terang Boelan. Tidak dapat dipungkiri bahwa kedua film tersebut berpengaruh besar terhadap dunia hiburan Hindia Belanda dan memunculkan persaingan antara film dan teater.

Berbagai andil RAA Wiranatakusumah tersebut membuktikan bahwa untuk menjadi seorang pemimpin yang baik, memang dibutuhkan keterampilan dan kecakapan. Meski berasal dari keturunan seorang bangsawan, RAA Wiranatakusumah tentu tidak akan sukses memimpin Bandung jika tidak memiliki kecakapan. Kepiawaiannya dalam memimpin ini juga terbukti dengan dipercayakannya jabatan Presiden Negara Pasundan saat Indonesia berbentuk Serikat.

This post have 0 komentar


:) :( hihi :-) :D =D :-d ;( ;-( @-) :P :o -_- (o) :p :-? (p) :-s (m) 8-) :-t :-b b-( :-# =p~ $-) (y) (f) x-) (k) (h) cheer lol rock angry @@ :ng pin poop :* :v 100

Next article Next Post
Previous article Previous Post

Advertisement